Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Tampilkan postingan dengan label Berita Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 11 Oktober 2011

Revitalisasi Pasar Hewan Tradisional


CyberSabili-JAKARTA-Setelah pelarangan impor sapi efektif berlaku, kabar menggeliatnya ternak lokal sudah satu bulan ini efektif. Kenaikan harga sapi lokal ditingkat peternak dan di pasar hewan juga sudah dirasakan oleh peternak.

“Kami melihat ini adalah gejala yang baik dan menyenangkan peternak lokal kita,” Ungkap Sekjen DPP Perhimpunan Petani Nelayan Sejahtera Indonesia (PPNSI)  Riyono.

Menurut Riyono, pengumuman hasil sensus populasi ternak sapi dan kerbau yang dilakukan oleh Deptan dan BPS menunjukkan bahwa Indonesia memiliki kemampuan untuk melakukan swasembada daging berdasarkan hasil sensus ini. Artinya semua elemen yang berhubungan dengan program ini khususnya kementan dan kemendag harus memprioritaskan program yang mengangkat potensi ternak lokal, bukan melakukan Impor.


“Seharusnya jangan imporlah, BPS saja memastikan sapi dan ternak kita cukup untuk kebutuhan dalam negeri,” tegas Riyono.

Hasil sensus BPS yang dirilis Kepala BPS Rusman mencatat sekitar 14 juta ekor sapi potong. Hasil sensus ternak sementara juga menghitung sebanyak 1,1 juta ekor populasi kerbau dan 400.000 ekor sapi perah. Dengan asumsi kebutuhan daging sapi nasional sekitar 1,76 kilogram per kapita per tahun dan jumlah penduduk sebesar 240 juta jiwa, maka kebutuhan sapi potong hanya sekitar 2,3 juta ekor saja. “Ini sudah lebih dari cukup,” ungkap Riyono.

Namun sensus lalu memberikan catatan mengenai keberadaan pasar ternak yang masih kurang dan belum maksimal pengelolaannya, bahkan Kemendag menduga bahwa jumlah pasar hewan masih kurang sehingga perlu ada penambahan pasar hewan di daerah sentra ternak.

Kalau bicara pasar ternak local, masih kata Riyono, seharusnya pemerintah segera melakukan revitalisasi pasar hewan tradisional bahkan kalau perlu daerah sentra ternak seperti Jawa Barat, Jawa tengah, NTB, Jawa Timur, setiap 1 kecamatan satu pasar ternak, sehingga peternak lokal dapat dengan mudah menjual sapi dan memudahkan dalam proses pengembangan pasar tradisional.

“Jadi dengan hasil sensus BPS sudah saatnya Indonesia menjadi negara yang mampu mengekspor sapi, sehingga cita – cita swasembada daging tidak perlu menunggu 2014,” kata Riyono.


Senin, 10 Oktober 2011

Indonesia-Slovakia Jalin Kerjasama Pertanian

VIVAnews – Hari ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima kunjungan Presiden Slovakia Ivan Gasparovic. Dalam pertemuan tersebut, Yudhoyono mengusulkan 9 kerjasama bilateral. Kerjasama di bidang pertanian berada di urutan teratas.

“Suatu prakarsa yang baik, ada kehendak kerjasama antara Universitas Andalas dengan perusahaan di Slovakia untuk riset dan development bidang penanaman dan pengembangan gandum di Indonesia,” kata Yudhoyono di Istana Merdeka, Senin 10 Oktober 2011.

Menurutnya, kerjasama tersebut tergolong penting. “Kalau sukses akan meningkatakan food security dan pasti membawa manfaat yang riil bagi kedua belah pihak,” ujar Yudhoyono. Menurutnya, apabila kerjasama ini berhasil, maka 240 juta penduduk Indonesia yang selama ini selalu mengkonsumsi beras sebagai makanan utama, akan mempunyai panganan alternatif, yakni gandum.

Kedua, pemerintah juga mengusulkan kerjasama di bidang pengembangan energi terbarukan, yakni panas bumi dan energi hidro. Ketiga, kata Yudhoyono, Indonesia-Slovakia juga sepakat meningkatkan timbal-balik investasi antarkedua negara.

“Keempat, kerjasama di bidang perbankan, utamanya untuk kepentingan trade financing,” ujar Yudhoyono. Di samping itu, pemerintah juga mengusulkan kerjasama di bidang media massa, pendidikan, infrastruktur, pariwisata, dan sosial budaya. (sj)

Kamis, 02 Juni 2011

Menteri Pertanian: Segelas Susu Segar Sehari


mentri pertanian.jpg (600×300)JAKARTA, PedomanNEWS.com - Tidak akan ada yang meragukan nilai gizi yang terkandung pada susu. Susu merupakan sumber protein, lemak, vitamin, dan mineral yang perlu dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Akan tetapi, susu menjadi bahan pangan yang tidak layak konsumsi jika tidak ditangani dengan benar. Saat ini di pasaran tersedia berbagai produk susu, ada yang dalam bentuk bubuk, susu kental manis, atau susu segar.
Pada tanggal 4 Juni 2011nanti merupakan Hari Susu Nusantara yang sudah memasuki tahun ketiga. Kementerian Pertanian membuat program "satu gelas susu sehari" untuk tetap mengkampanyekan betapa pentingnyanya susu untuk tubuh kita.
Kali ini tim pedomanNEWS.com mendapatkan kesempatan untuk mewawancarai Menteri Pertanian Suswono terkait perayaan Hari susu Nusantara dengan Tema "Segelas Susu Segar Sehari” berikut adalah petikan wawancaranya:
Seberapa Penting susu baik dari segi kesehatan maupun ekonomi?
Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat terutama untuk pertumbuhan, dilain pihak susu juga merupakan komoditas ekonomi yang mempunyai nilai yang sangat strategis. Kebutuhan produksi susu dalam negeri yang sampai saat ini belum dapat terpenuhi, mengakibatkan importasi bahan baku industri susu dalam jumlah yang sangat besar dan cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Dalam rangka mengatasi masalah tersebut dan mendukung program Revitalisasi Pertanian, pengembangan industrialisasi perdesaan berbasis sapi perah rakyat merupakan suatu langkah strategis yang sangat mendesak untuk dilaksanakan.
Berapa besar kebutuhan kosumsi susu bagi Indonesia?
Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi susu, pada saat ini kita masih mengimpor dalam jumlah yang sangat besar yaitu sekitar 74% dari kebutuhan industri susu di dalam negeri. Populasi sapi perah pada tahun 2008 sebesar 408.000 ekor dengan laju pertumbuhan 2,5%. Dari jumlah populasi tersebut sebagian besar tersentralisasi di Pulau Jawa (98%) dan sisanya tersebar di beberapa wilayah luar Jawa. Konsentrasi populasi sapi perah di Pulau Jawa ini terkait erat dengan keberadaan industri pengolahan susu (IPS) skala besar yang sampai saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Produksi susu dalam negeri baru mencapai sekitar 636.8 ribu ton per tahun dan hanya mampu memenuhi sekitar 26% dari kebutuhan konsumsi susu nasional, selebihnya masih diimpor. Ketergantungan yang tinggi terhadap susu impor dalam jangka panjang dapat menimbulkan kerawanan terhadap ketahanan pangan produk asal hewan. Oleh karena itu perlu mendapat perhatian kita bersama untuk mengupayakan peningkatan produksi susu dalam negeri baik melalui peningkatan produktivitas maupun peningkatan populasi sapi perah.
Jenis susu apa yang sering dikomsumsi masyarakat Indonesia
Dilihat dari jenis susu yang dikonsumsi, masyarakat Indonesia mengkonsumsi susu cair dalam bentuk UHT 4,6 % (118,5 ribu ton), Susu Steril 2,7 % (69 ribu ton), susu Pasteurisasi 1,2 % (30 ribu ton) dan yang paling banyak dikonsusmsi yaitu dalam bentuk susu bubuk (43,3 %). Berdasarkan data tersebut tergambar bahwa jenis susu yang dikonsumsi masyarakat sebagian besar berupa susu bubuk yang harganya jauh lebih mahal dibandingkan harga susu segar/pasteurisasi dan steriliassi. Sehingga, akses masyarakat untuk mengkonsumsi susu hanya dimiliki oleh masyarakat dari kalangan menengah keatas.
Apa yang menjadi permasalahan dari pengembangan persusuan nasional?
Permasalahan utama pengembangan persusuan nasional adalah lambatnya laju perkembangan populasi sapi perah dan masih rendahnya produktivitas dan kualitas susu produksi para peternak kita. Rendahnya mutu susu peternak ini sering berimplikasi terhadap pengurangan nilai (harga). Maka, upaya di bidang persusuan yang akan terus ditingkatkan antara lain ialah peningkatan populasi sapi perah, peningkatan produktivitas dan kualitas susu produksi peternak. Selain itu, ke depan akan lebih diharmoniskan pola tata niaga susu antara peternak, Koperasi dan industri pengolahan susu (IPS).
Apa yang telah dilakukan pemerintah untuk mengembangkan usaha industri di pedesaan?
Dalam upaya mengembangkan usaha industri pengolahan skala kecil di perdesaan, Pemerintah telah merintis pembangunan Unit Pengolahan Susu Pasteurisasi yang dikelola oleh Gabungan Kelompok peternak (Gapoknak). Kebijakan ini diiringi dengan promosi gerakan minum susu segar. Susu segar merupakan bahan pangan yang sangat penting dan menjadi komoditi strategis dari subsektor peternakan. Karena, susu adalah salah satu sumber protein hewani penting bagi pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, yang mempunyai kontribusi nyata pada peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM). Di samping itu susu juga mempunyai nilai ekonomi yang tinggi bagi peningkatan pendapatan masyarakat khususnya bagi para pelaku usaha agribisnis persusuan. Susu dapat memperbaki kualitas SDM dan mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu maka perlu adanya upaya nyata dari seluruh pemangku kepentingan di bidang persusuan untuk bersinergi mendorong memasyarakatkan minum susu segar sejak usia dini.

Dalam menyambut perayaan hari susu nusantara apa yang dilakukan Kementerian Pertanian?
 Dalam perayaan Hari Susu Nusantara yang memasuki tahun ketiga mengusung tema ’’ Segelas Susu Segar Sehari ’’ , selain puncak acara yang diselenggarakan di Semarang pada tanggal 4 Juni 2011, berbagai kegiatan lainnya yang dilakukan antara lain:
1) Seminar persusuan dengan pokok bahasan Sistem Jaminan Mutu Keamanan Pangan Produk Susu, Upaya peningkatan Produksi dan Pemasaran Susu Segar serta Workshop Pengembangan Jaringan Pemasaran Susu
2) Gerakan Intensif Minum Susu bagi Anak Usia Sekolah
3) Dairy Fildtriep for Children and Drawing Kids Competition (tgl. 29 Mei 2011 di Semarang)
4) Lomba Memasak dengan Bahan Baku Susu Segar
5) Kontes Ternak Sapi Perah (Jabar, Jateng, Jatim)
6) Kontes Penjurian Sapi Perah Ideal (Judging)
7) Bedah Kandang di daerah Bencana Merapi
8) Pemberian Penghargaan

Selasa, 24 Mei 2011

Lahan Pertanian Produktif di Jawa Tinggal 3,5 Juta Hektare

Lahan Pertanian Produktif di Jawa Tinggal 35 Juta HektareKementerian Pertanian memperkirakan saat ini lahan pertanian produktif di Pulau Jawa tinggal 3,5 juta hektare atau menurun drastis bila dibandingkan dengan 2007. 

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono di Jakarta, Sabtu (21/5), mengatakan pada 2007 Badan Pertanahan Nasional menyatakan lahan pertanian produktif di Pulau Jawa mencapai 4,1 juta hektare.

"Namun, dari hasil audit lahan pertanian yang dilakukan Kementerian Pertanian pada 2010 lahan pertanian produktif di Jawa tinggal 3,5 juta hektare," katanya dalam seminar bertajuk Improving The Enabling Environment for Agribusiness and Agroindustry Competitiveness yang digelar oleh Program Pascasarjana Manajemen dan Bisnis Institut Pertanian Bogor.

Kondisi tersebut, menurut Mentan, bisa menjadi ancaman terhadap lahan pertanian produktif di Pulau Jawa.

Salah satu pendorong terjadinya penyusutan lahan pertanian produktif di Jawa yakni pengalihan untuk industri, perumahan, dan jalan. Selain itu, sistem pewarisan tanah di Indonesia dengan pola membagi-bagikan lahan kepada ahli waris juga menjadi pendorong fragmentasi areal pertanian produktif.

Di Thailand, ujar Susmono, penguasaan lahan pertanian tetap diserahkan kepada satu orang ahli waris setelah orang tua meninggal, sehingga tidak mengurangi luas areal garapan petani. Oleh karena itu, Mentan mendesak pemerintah kabupaten maupun kota untuk segera menyusun Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) guna menyelamatkan lahan pertanian produktif di wilayah masing-masing. 

Badan Ketahanan Pangan Target Turunkan Konsumsi Beras

Metrotvnews.com, Serang: Badan Ketahanan Pangan (BKP) Pusat menargetkan penurunan konsumsi beras masyarakat di Indonesia sebanyak 1,5 persen setiap tahun. Saat ini konsumsi beras per kapita secara nasional masih tinggi mencapai 139,15 kg per tahun per kapita.

Angka tersebut, menurut Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian Achmad Suryana, masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan angka konsumsi beras di beberapa negara tetangga atau dibandingkan rata-rata konsumsi beras per kapita dunia yang hanya 60 kg per kapita per tahun. Bahkan Malaysia sudah mencapai 80 kg per kapita per tahun.

"Ini memberatkan apabila kita ingin meningkatkan swasembada beras. Sehingga harus kita antisipasi, karena setiap tahun jumlah penduduk selalu bertambah, sementara luasan lahan pertanian semakin berkurang akibatnya produksi beras lambat laun tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan masyarakat," kata Ahmad Suryana usai menghadiri acara "Gerakan Diversifikasi Pangan Berbasis Sumber Daya Lokal untuk Kemandirian Pangan" tingkat Provinsi Banten di alun-alun Barat Kota Serang, Banten, Selasa (24/5).

Ia mengatakan Badan Ketahanan Pangan (BKP) terus berupaya menurunkan tingkat konsumsi beras bagi masayarakat di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu upaya tersebut melalui Gerakan Diversifikasi Pangan Non-Beras Berbasis sumber daya lokal karena keanekaragaman pangan menjadi salah satu pilar utama dalam ketahanan pangan.

"Kita memiliki banyak sumber daya alam untuk keanekaragaman pangan sesuai potensi daerah masing-masing, seperti jagung, umbi-umbian, sukun dan pisang. Bisa juga dibuat tepung-tepungan yang menyerupai beras," kata Achmad.

Masyarakat diharapkan jangan hanya bergantung pada satu macam produk pangan yaitu beras, sehingga berdampak besar kepada penguatan ketahanan pangan di Indonesia. Karena itu, melalui Peraturan Presiden Nomor 22 tahun 2009 tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumber Daya Lokal, pemerintah berusaha mengurangi ketergantungan beras melalui program diversifikasi pangan.

"Kendala program diversifikasi pangan adalah perubahan pola pikir masyarakat Indonesia. Karena kebiasaan masyarakat kita, jika belum makan nasi berarti belum makan," kata Achmad.(Ant/BEY)

Jumat, 13 Mei 2011

KEMENTRIAN PERTANIAN KAMPANYEKAN MINYAK SAWIT DI EROPA


JAKARTA (Pos Kota)-Kementerian Pertanian menggelar kampanye ´green product kelapa sawit´ (palm oil campaign) di dua negara yang tergabung di Uni Eropa, Prancis serta Spanyol. Hal itu untuk mengantisipasi maraknya isu negatif yang disematkan terhadap produk sawit asal Indonesia.

“Kampanye kami lakukan guna menyampaikan informasi terkait kebijakan serta upaya pengembangan industri kelapa sawit nasional dengan memperhatikan prinsip keberlanjutan (sustainability),” kata Menteri Pertanian (Mentan) Suswono, kemarin.

Menurut Mentan, pihaknya menyampaikan keberatan Pemerintah Indonesia terhadap pandangan negatif lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional terhadap pengembangan industri kelapa sawit nasional serta aturan negara importir yang berdampak negatif terhadap ekspor minyak sawit.

Dalam pertemuan bersama Menteri Lingkungan, Pedesaan dan Perikanan Spanyol, Mentan Suswono menjelaskan komitmen Pemerintah Indonesia dalam implementasi Indonesia Sustainable Palm Oil System dan perhatian terhadap kriteria lingkungan yang tercantum dalam Renewable Energy Directive (RED) yang berpotensi sebagai Non-Tarif Barrier dalam perdagangan.

Begitu juga ketika bertemu dengan Menteri Pertanian Prancis, Suswono menyampaikan pandangan serupa. “Pemerintah Prancis dapat memahami pandangan Indonesia dan berharap mendapat masukan dari hasil penelitian tentang minyak sawit sebagai evaluasi kebijakan terkait dengan penggunaan sawit di negara tersebut,” tambahnya.

Suswono menjelaskan, kampanye negatif terhadap produk sawit Indonesia oleh negara-negara maju yang mengusung isu lingkungan sebenarnya lebih berlatarkan persaingan dagang, bukan semata-mata karena aspek lingkungan. (faisal/B) [Sumber: http://www.poskota.co.id] 

Selasa, 10 Mei 2011

1.000 Kapal untuk Nelayan

BENGKULU, KOMPAS.Com - Rendahnya produksi perikanan tangkap Indonesia berkaitan erat dengan minimnya kapal berbobot mati di atas 30 gross ton ( GT). Akibat kapal yang kecil daya jelajah nelayan terbatas dan hasil tangkapan pun sedikit.
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Demikian disampaikan Menteri Kelautan Perikanan, Fadel Muhamad, ketika menyerahkan tiga kapal 30 GT kepada nelayan Bengkulu, Selasa (10/5) sore. Oleh karena itu, katanya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memprogramkan bantuan 1.000 kepala berbobot mati 30 GT untuk nelayan seluruh Indonesia.
"Kapal nelayan yang 30 GT hanya dua persen dari seluruh kapal nelayan di Indonesia. Sebanyak 98 persen kapal nelayan hanya 5 GT, 10 GT, atau 20 GT," ujar Fadel.
Akibat lain dari daya jelajah nelayan yang terbatas, kata Fadel, ialah masuknya kapal-kapal pencari ikan berukuran besar dari luar negeri.
Kapal 30 GT bantuan dari KKP dibuat di galangan kapal tradisional di berbagai daerah. Dengan begitu, galangan kapal tradisional yang mayoritas hamper mati itu bisa beroperasi lagi.
Provinsi Bengkulu pada 2011 ini mendapat bantuan tiga kapal 30 GT. Kapal itu diharapkan dapat membantu nelayan Bengkulu mengarungi Samudera Hindia di pesisir Barat Sumatera.
Kapal bantun untuk nelayan Bengkulu dibuat di lokasi pembuatan kapal tradisional milik H Rizwan Effendi di daerah Pasar Bengkulu.
Menurut Rizwan, harga satu kapal 30 GT sekitar Rp 300 juta. Pembuatan satu kapal 30 GT berbahan kayu kelas kruing ini memerlukan waktu 5-6 bulan. Kapal itu bisa tahan hingga 10 tahun dan memiliki daya jelajah tak terbatas.

Akibat BBM Langka, Nelayan semakin Terjepit

BANJARMASIN--MICOM: Kondisi kelangkaan BBM jenis solar dan minyak tanah yang terus berlangsung di Kalimantan Selatan membuat nelayan kian terjepit.

"Selama ini, untuk menghemat biaya melaut nelayan terpaksa mengoplos solar dan minyak tanah," ucap Arbani, Ketua Nelayan Saijaan (Insan) Kotabaru, Selasa (10/5).

Akibat langkanya kedua jenis BBM tersebut, nasib ribuan nelayan semakin terjepit.

Dalam beberapa waktu terakhir, SPBU yang melayani BBM untuk nelayan di Kotabaru sering kosong, sehingga sebagian nelayan terpaksa membeli BBM di pedagang eceran dengan harga mencapai Rp7.000 per liter untuk solar dan Rp6.000 untuk minyak tanah.

Masalah kelangkaan dan mahalnya BBM ini, memang menjadi kendala utama dihadapi nelayan. Sebagian nelayan, bahkan tidak dapat melaut karena harga BBM mahal.

Di wilayah Kabupaten Kotabaru, jumlah nelayan tradisional mencapai 3.000 orang dan sebagian dari mereka kini tidak lagi melaut.

Selain BBM jenis solar, para nelayan Kalsel mengandalkan  minyak tanah sebagai bahan bakar pengganti, setelah sulit dan mahalnya harga solar di pasaran.

Mayoritas nelayan di kalsel telah memodifikasi mesin kapalnya, dengan bahan bakar oplosan antara solar, oli bekas dan minyak tanah.

Pantauan Media Indonesia, hingga kini antrean panjang masih terjadi di sebagian besar SPBU di Kalsel. Kelangkaan BBM, telah mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat. (OL-12)

Air Waduk Surut, Nelayan Bercocok Tanam

PURWAKARTA, KOMPAS.com — Ratusan nelayan tangkap di perairan Waduk Ir H Djuanda atau Waduk Jatiluhur di Kecamatan Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, beralih profesi menjadi petani, dua bulan terakhir. Surutnya air waduk menyulitkan akses nelayan ke lokasi penangkapan dan menurunkan hasil tangkapan.
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Jarak dari permukiman ke perairan bertambah dari hanya beberapa meter tahun lalu menjadi lebih dari 1 kilometer saat ini karena muka air waduk turun. "Sulit mencari tempat menambatkan perahu karena bekas area genangan berlumpur. Jika diinjak, kaki bisa terperosok hingga 0,5 meter," kata Acon Wiguna, Ketua Himpunan Nelayan Jatiluhur (Hinpujat), di Desa Galumpit, Kecamatan Tegalwaru, Jumat (29/4/2011).
Hinpujat beranggotakan sekitar 400 nelayan dari sejumlah desa di tiga kecamatan, yakni Tegalwaru, Maniis, dan Sukasari. Tiga kecamatan itu berada di bagian selatan atau hulu Waduk Jatiluhur yang luasnya mencapai 8.300 hektar dan meliputi enam kecamatan di Kabupaten Purwakarta. Saat muka air waduk surut, area genangan di beberapa desa di tiga kecamatan itu yang pertama kali kering.
Menurut Acon, sebagian besar nelayan beralih profesi menjadi petani padi, jagung, cabai, atau kacang panjang saat air surut. Mereka menanami sekitar 60 hektar daerah genangan waduk saat surut seperti sekarang. Jika beruntung, mereka bisa panen dan meraup untung hingga jutaan rupiah. Namun, tak jarang tanaman tergenang sebelum panen tiba karena muka air waduk naik lagi.
Jeje, salah satu nelayan di daerah itu, kini menggarap sekitar 400 meter persegi di tepian waduk Kampung Galumpit. Bersama Ara, istrinya, Jeje menanam padi yang kini usianya telah satu bulan. "Mudah-mudahan 2-3 bulan ke depan tanaman selamat (tak tergenang) dan bisa dipanen," ujarnya.
Saat sebagian besar nelayan beraktivitas, anggota Hinpujat bisa menghasilkan tangkapan hingga ratusan kilogram ikan per hari. Ikan yang tertangkap jaring sebagian besar adalah nila, mas, dan patin yang banyak dibudidayakan pembudidaya keramba jaring apung.  Oleh pengepul, ikan-ikan tangkapan nelayan itu dipasarkan ke pasar-pasar di Purwakarta, Bandung, dan Jakarta.
Rendahnya curah dan intensitas hujan di daerah aliran Sungai Citarum sejak awal tahun ini membuat tinggi muka air Waduk Saguling, Cirata, dan Ir H Djuanda terus turun mendekati titik kritis.
Tinggi muka air (TMA) Waduk Saguling pada Rabu (9/3/2011), misalnya, berdasarkan catatan Perum Jasa Tirta (PJT) II, tercatat 630,23 meter atau 5,23 meter di atas titik terendah operasional waduk 625 meter. Sementara TMA Waduk Cirata 208,34 meter atau 2,34 meter di atas titik terendah, yakni 206 meter.
Volume air efektif ketiga waduk juga lebih rendah dari rencana operasi. Volume air Saguling tercatat 92,51 juta meter kubik atau hanya 28,09 persen dari rencana, sementara Cirata 99,94 juta meter kubik (24,13 persen), dan Ir H Djuanda 1.123,32 juta meter kubik (80,62 persen).
Secara umum, rata-rata debit aliran Citarum selama Januari 140,44 meter kubik per detik atau 92,76 persen dari rencana dan Februari 131,15 meter kubik per detik (72,86 persen rencana).

Klaim Kompensasi di Atas 100 Miliar Dollar AS

KOMPAS.com - Meski belum ada rincian persis klaim kompensasi dampak rusaknya reaktor nuklir Fukushima Daiichi, para analis mengatakan jumlah klaim tersebut lebih dari 100 miliar dollar AS. Menurut warta AP dan AFP pada Selasa (10/5/2011), sedikitnya, 80.000 warga tinggal dalam radius radiasi 20 kilometer dari pembangkit listrik itu. Mereka sudah diungsikan.


Tak hanya itu, perhitungan juga mencakup banyak pabrik dan lahan pertanian di kawasan tersebut. Pabrik dan lahan itu pun mesti dikosongkan. Berangkat dari sinilah, pembicaraan mengenai kompensasi memang tengah berlangsung antara pihak pengelola reaktor yakni Tokyo Electric Power Company (Tepco) dengan pemerintah Jepang tengah berlangsung. Pihak Tepco pun sudah mengajukan permohonan tertulis resmi kepada Menteri Ekonomi Banri Kaieda. Isi surat itu adalah permintaan agar pemerintah Jepang membayar kompensasi dimaksud.
Kemudian, sebagai gantinya, pihak Tepco bersedia melakukan pembangunan kembali kawasan. Kemudian, sebagaimana pernyataan Presiden Tepco Masataka Shimizu, pihaknya bakal memangkas gaji para direktur dan karyawan.
Reaktor Fukushima menjadi korban gempa bumi bermagnitud 9,0 berikut tsunami yang melanda Jepang pada Jumat (11/3/2011) silam.

Warga Bangun Huntara Secara Swadaya

MAGELANG, KOMPAS.Com - Enam keluarga di Dusun Candi, Desa Sirahan, Kecamatan Salam, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, membangun sendiri hunian sementara (huntara). Mereka terpaksa menggunakan uang pribadi masing-masing, karena huntara yang dijanjikan pemerintah tidak kunjung direalisasikan.
<a href='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/ck.php?n=a3126491&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://ads3.kompasads.com/new/www/delivery/avw.php?zoneid=951&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3126491' border='0' alt='' /></a>
Enam keluarga itu membangun huntara sendiri di areal pertanian milik warga sekitar yang disewa Rp 600.000 per tahun.
"Pulang dari pengungsian, huntara dari pemerintah belum tersedia, padahal kami tidak lagi punya tempat bernaung. Rumah kami rusak diterjang banjir lahar dingin. Tidak ada solusi lain kecuali secepat mungkin membangun huntara secara mandiri," ujar salah seorang warga, Agus Sujarwo, Selasa (10/5).
Sebelumnya, 57 keluarga di Dusun Candi mengungsi di Balai Desa Tersangede, Kecamatan Salam, selama tiga bulan. Mereka baru pulang ke rumah sekitar dua minggu lalu.
Sejak Januari lalu, warga Dusun Candi sudah didata dan dijanjikan bahwa seluruh warga nantinya akan dipindahkan, untuk tinggal di huntara di Lapangan Mancasan, Gulon, Kecamatan Salam.
Kini, tiga huntara sudah terbangun dan ditempati. Tiga keluarga yang belum mendapat jatah huntara, untuk sementara waktu menumpang di rumah kerabat dan tetangga.
Suprapti (56), salah seorang warga, mengatakan, baginya tidak ada pilihan lain kecuali membuat huntara karena rumahnya telah hanyut tersapu banjir. "Saya sempat menumpang di rumah kerabat. Namun, jika harus menumpang terlalu lama, saya pun merasa segan dan tidak nyaman," ujarnya.
Sebelumnya, di rumah pribadinya yang kini tinggal tersisa puing-puing, dia tinggal bersama dua anak dan dua cucunya.
Dana yang dibutuhkan untuk membangun satu unit huntara berkisar Rp 2,5-3 juta. Masing-masing keluarga mengumpulkan uang pembangunan huntara dari penghasilannya menambang pasir, ditambah dengan berutang kepada saudara.
Dengan keterbatasan dana, maka huntara yang dibangun warga tersebut masih minim fasilitas. Untuk kebutuhan mandi cuci kakus misalnya, penghuni huntara terpaksa masih menumpang di rumah warga terdekat. Fasilitas dan sarana prasarana dalam huntara seperti kasur, dan kompor diambil dari bantuan dan sebagian lagi dari rumah.
Terkait itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang, Eko Triyono, mengatakan, dari usulan 306 huntara saat ini baru 100 unit huntara yang selesai dibangun di Lapangan Jumoyo.
Lapangan Mancasan direncanakan pula menjadi lokasi pembangunan huntara selanjutnya, namun Eko sendiri belum bisa memastikan kapan huntara di lapangan tersebut siap huni.
"Pembangunan huntara sepenuhnya menjadi tanggungjawab Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, dan di luar wewenang kami," ujarnya. 

Rabu, 04 Mei 2011


PPNSI JAya

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates